Mengomentari Komentar Kuswinarto
Beberapa hari lalu saya membuka buku tamu www.cybersastra.net. Di sana saya menemukan tulisan Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja alias Kus, “Wah, aku baru tahu kalau ada komen tar Agust inus Wahyo no di bawah Esaik u " ;Dua Versi Sajak 'Ijin kan Aku Tuhan ' Mega Evers itian awati . Komen tar yang hebat . Makas ih. Tapi sebai knya fakta itu janga n dibal ik2. Biar gak menye satka n orang lain.” (no. 5217, tgl. 26.10.2004 22:30, IP:212.subnet246.astinet.telkom.net.id)
Saya heran ketika membaca kalimat “Tapi sebaiknya fakta itu jangan dibalik-balik. Biar gak menyesatkan orang lain”. Oh ya? Siapa yang membolak-balik (kayak tukang fotokopi atau martabak bangka saja) fakta, siapa merekayasa fakta, dan siapa yang menyesatkan orang lain? Saya ataukah Kuswinarto yang justru membalik fakta, merekayasa hingga menyesatkan (memfitnah!) melalui apresiasinya (mentang-mentang bisa menulis esai)?
Saya juga kembali menengok komentar saya, “Eseis ini memang pakar sastra, bahkan berdiri sebagai "pembela Tuhan". Ia tidak menerima ada puisi yang, menurutnya, memberontak bahkan anti-Tuhan. Hebat. Ia memang sastrawan. Juga pasti hafal slogan-slogan sastra. Mungkin ia termasuk rohaniwan sastra. Mungkin. Tapi, dalam realitas keseharian, eseis ini malah mengincar dan merebut kekasih (calon istri) sahabatnya sendiri. Bagaimana bisa setega itu? Begitulah. Kita memang bisa melihat kuman di ujung lautan, tetapi tidak mau melihat gajah di pelupuk mata. Itulah sisi lain dunia sastra.” (abang-onoy-bangka, Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, Re: Dua Versi Sajak, pada 03/05/2004)Saya masih ingat sekali, komentar tersebut saya tujukan pada kalimat esai Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja yang berbunyi,
“Dalam edisi revisi sajak itu (yang di Situs Sari Kata), penerimaan dan pandangan seperti itu tidak ada lagi. Raib. Gantinya sebuah pemberontakan. Seorang hamba yang memberontak Tuhannya. Nada kebencian dan ketidakpuasan kepada Tuhan tampak jelas pada dua baris terakhir bait terakhir itu. Pandangan bahwa semua yang berlaku atas manusia di dunia ini adalah cobaan atau ujian Tuhan, hilang.
Dari perbandingan ini dapat disimpulkan bahwa edisi pertama sajak itu termasuk sajak religius, sedangkan edisi revisinya bukan sajak religius, bahkan cenderung anti-Tuhan. Dari perubahan itu, juga timbul tanya, apakah Mega juga berubah dari religius menjadi anti-Tuhan? Semoga tidak, dan saya berharap itu tidak terjadi. Tetapi, tentu semua ada pada diri Mega sendiri.” (Esai “Dua Versi Sajak ‘Ijinkan Aku Tuhan’", Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, 18/04/2004)
Saya mencatatkan kata-kata “hamba yang memberontak Tuhannya”, “nada kebencian”, “cenderung anti-Tuhan”, dan “berubah dari religius menjadi anti-Tuhan” yang disangka-dakwakan seenak udelnya oleh Kuskus terhadap kreatornya. Apakah Kuswinarto ini seorang ahli agama, kiyai, nabi, atau malah paranormal alias dukun?
Dari situ saya justru melihat Kus telah berlaku terlalu berani dan seenak udelnya sendiri mendakwa/menghakimi bahkan “meremehkan”, seolah-olah dia hendak memamerkan bahwa dirinyalah yang lebih memahami/mengerti persoalan dosa, pemberontakan terhadap Tuhan, anti-Tuhan, dan sekitarnya. Meskipun puisi dapat pula “dicurigai” sebagai ungkapan isi hati si pemuisi, bukan berarti bahwa si pemuisi adalah seperti apa yang didakwakan, terlebih puisi yang muncul bisa saja merupakan jeritan batin sesaat (bukan sikap hati yang permanen) yang selanjutnya dituliskan oleh si pemuisi. Apakah religiusitas seorang Kuswinarto lebih bermutu daripada pergumulan religiusitas seorang Mega Everistianawati yang terungkap dalam puisi? Apakah seorang Mega harus mengalami pengalaman religius dan menulis puisi semata-mata puja-puji, barulah Kuswinarto akan menstempelnya sebagai “puisi religius yang pro-Tuhan”? Apakah kriteria “pro-Tuhan” dan “anti-Tuhan” hanya ada di tangan dan tempurung kepala Kuswinarto? Waduh-waduh!
Padahal, setahu saya (apakah saya tidak boleh tahu, dan cuma seorang Kuswinarto yang boleh tahu?), kehidupan spiritual seseorang merupakan perjalanan panjang (seumur hidup) yang belum bisa sekonyong-konyong disimpulkan “religius menuju anti-Tuhan”. Lha wong Tuhan saja senantiasa memberi kesempatan manusia untuk kembali, mencari atau menemukan Diri-Nya sebelum batas nafas sang manusia berakhir, kok Kus malah seenak udelnya sendiri menuduhkan “menuju anti-Tuhan”?
Menurut saya (jangan-jangan Kus malah mencap ini penyesatan! Emangnya Kus itu Nabi? Atau tukang stempel?), pengalaman kehidupan religius-spiritual setiap orang itu berbeda-beda. Dan, dengan perbedaan itu, bagi saya, malah memperkaya pengetahuan tentang ke-Maha-an Tuhan, sehingga saya semakin takjub pada kehebatan-Nya dalam melawat para ciptaan-Nya. Kalau pengalaman dan suasana tersebut harus seragam (tiap-tiap orang mengalami hal serupa, atau sama persis yang dirasakan oleh Kus), saya justru meragukan kreativitas Sang Maha Kreatif.
Selain itu, seseorang yang kelihatannya brengsek (menurut kepicikan siapa), di suatu saat bisa mensyukuri sesuatu. Umpamanya, ada yang tidak sungkan-sungkan mengumpati kawannya dengan kata-kata “babi lu!”, “asu!”, “bajingan” atau “anjing!”, tapi dia pun bisa begitu fasih mengagungkan Tuhan. Ada juga pelanggan togel yang bisa mengucapkan syukur dengan penuh keharuan ketika angka taruhannya muncul secara persis dan mendapat hadian jutaan rupiah. Ada juga yang kelihatannya alim dan beberapa karyanya bernuansa religius, namun enjoy-enjoy saja ketika dia menceraikan pasangan sahnya (yang sebelumnya saling mengucapkan kalimat suci), berselingkuh, dll. Bahkan seorang yang berdosa seperti saya ini pun bisa tiba-tiba mengalami suasana spiritual yang sangat dahsyat serta menyejukkan batin, lantas saya tuliskan dalam bentuk puisi yang beraroma religius. Atau, seorang koruptor kelas tenggiri tiba-tiba mengucapkan kata “syukur kepada Tuhan” (karena mendapat hasil besar secara ilegal tapi tidak ketahuan), lalu membuat kalimat yang bagus, jangan-jangan malah dikira orang tersebut sudah sadar/insyaf dan karyanya disebut “bernuansa religius”.
Beberapa hal kemudian hinggap dalam pikiran saya. Apakah seseorang harus melakukan ritual tertentu terlebih dulu (harus diketahui oleh Kuswinarto agar ritual tersebut betul-betul sah menurut keangkuhan rohaninya), baru kemudian ilham sudi datang atau Tuhan sudi berkunjung? Apakah Tuhan tidak boleh (lho, siapa yang nuekat tidak memperbolehkan Tuhan ya?) menghadiahkan “ilham” secara cuma-cuma atau menciptakan suasana religius kepada siapa pun, termasuk orang yang dicap Kus sebagai “pemberontak” ataupun “pendosa”? Serta, kenapa kita harus tergesa-gesa menghakimi “memberontak” sampai-sampai “anti-Tuhan” (astaga!) terhadap pergumulan batin seseorang tanpa kita memberi kesempatan pada orang tersebut untuk berdialog secara pribadi seutuhnya dengan Sang Khalik hingga suatu waktu ia betul-betul memperoleh apa yang menjadi ganjaran yang patut baginya? Bahkan, apakah mustahil bin khayal bila suatu waktu seorang rohaniwan mengalami sebuah pergumulan batin, dan berikutnya ia sempat meragukan kekuasaan-Nya? Apakah dengan sedikit keraguan itu nantinya si rohaniwan akan menjadi terpuruk berujung murtad (murtad menurut siapa pula)? Atau sebaliknya, setelah keraguan tersebut, apakah mustahil si rohaniwan kemudian mengalami hal spiritualis yang semakin membuat dirinya kian mengagumi ke-Maha Kuasa-an Sang Khalik?
Hal “penghakiman”, “pendakwaan”, dan sejenisnya tersebut, mau tidak mau, mengingatkan saya pada apresiasi (atau tuduhan, dakwaan!) Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja terhadap cerpen saya yang berjudul “Membakar Bulan” (Catatan untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono yang dimuat di Galeri Karya Esai, www.cybersastra.net, 5 Januari 2003).
Pada apresiasinya Kus menuliskan,
“Dengan sudut pandang pengisahan (point of view) orang ketiga, jelas sekali narator “memihak” tokoh Oji, mahasiswa yang kebetulan di TKP saat aksi pembakaran. Oji sinis dengan pembakaran itu dan ia cenderung berpendapat: sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras, seperti rumah bordil tetap menjual zinah. Permisif. Padahal, orang yang tidak melakukan maksiat, tetapi membiarkan kemaksiatan itu, juga berdosa. Yang tepat saya kira, jual-beli zinah itu diberantas juga seperti miras, hanya saja tidak perlu dengan kekerasan.”
Memang pembaca mempunyai hak mutlak untuk mengapresiasi apa saja yang dibacanya. Saya hormati hak tersebut. Akan tetapi, apresiasi atas apa yang dibaca bila didasarkan hanya pada keangkuhan prinsip spiritual (merasa diri lebih bermoral-berbudi luhur-bertaqwa, lebih beriman, lebih dekat kepada Tuhan, lebih suci) yang kemudian termanifestasikan dalam apresiasi, menurut saya, sungguh berlebihan dan cenderung semena-mena menghakimi. Apalagi kemudian ditambah “jelas sekali narator (pengarang, berati saya, Agustinus Wahyono!) ‘memihak’ tokoh Oji”, dan “cenderung berpendapat”, padahal tokoh Oji sama sekali heran bahwa kekerasan yang terjadi hanya pada tempat yang “tak terlindungi”. Apakah pesan pengarang/narator (: saya) tidak sampai, ataukah karena Kus sudah telanjur merasa diri lebih suci, lebih pintar, lebih bertaqwa, serta lebih berakhlak mulia sehingga terungkap dalam apresiasinya (apresiasi ataukah sebuah penyesastan/fitnah yang terstruktur secara logis nan bengis)?
Coba perhatikan lagi kalimat buatan Kuswinarto,
“Dengan sudut pandang pengisahan (point of view) orang ketiga, jelas sekali narator “memihak” tokoh Oji, mahasiswa yang kebetulan di TKP saat aksi pembakaran. Oji sinis dengan pembakaran itu dan ia cenderung berpendapat: sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras, seperti rumah bordil tetap menjual zinah. Permisif”.
Pada kalimat tersebut justru jelas sekali Kus “menuduh” saya (sebagai narator alias kreator) menganjurkan perbuatan seperti yang Kus “tuduhkan” dalam apresiasinya. Astaga! Di situ Kus membuat tambahan sendiri, dan itu jelas-jelas sekali menghasut, memfitnah dan menyesatkan opini yang semestinya! Benar-benar bikin saya tak habis pikir, kenapa seorang Kuskus memanfaatkan potensinya pada sebuah prasangka yang betapa buruk-busuknya sampai cenderung menyesatkan opini publik serta memfitnah seorang Agustinus Wahyono! Dumeh pinter, njur sakpenak udele dhewe (opo udele enak? saru, ih!).
Logika kalimatnya: jelas sekali narator (= pencerita = pengarang alias Agustinus Wahyono) “memihak” Oji, yang cenderung berpendapat :sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras. Alamak!
Dahsyat nian “tuduhan” ("fitnahan") Kus atas saya (narator, pencerita, pengarang, kreator) yang diwakilkan oleh tokoh Oji dalam cerpen saya, apalagi dengan penekanan “jelas sekali”. Tuduhan yang amat sangat jahat, keji, dan kejam ! Padahal cerpen “Membakar Bulan” telah dimuat di Harian Bangka Pos edisi Minggu 5 Mei 2002 sebelum Kus membedah dan menampilkannya pada situs www.cybersastra.net pada 5 Januari 2003 (8 bulan setelah pemuatan di media massa cetak!). Bukankah redaktur media cetak lokal harus selektif karena “misi pendidikan” yang diembannya? Apakah seorang Kuswinarto lebih memahami hakikat “misi pendidikan” sebuah media massa dibanding redaktur budaya di koran daerah saya? Wah, kalau begitu, hebat banget Kus satu ini!
Dia juga bilang, “Padahal, orang yang tidak melakukan maksiat, tetapi membiarkan kemaksiatan itu, juga berdosa.”
Dengan tanpa spesifikasi “maksiat itu apa (dengan Mak Erot, apanya?), menurut definisi apa, dan berdosa menurut ajaran apa”, saya kira penghakiman Kus tersebut super subyektif banget dan men-generalisasi-kan dosa. Misalnya, kita mengatakan penganut agama A itu makan daging babi (haram), padahal penganut agama A pun menilai kita ini makan daging yang tidak diperbolehkan dimakan, contohnya sapi. Penganut agama lain tidak mempermasalahkan orang minum anggur (bukan untuk mabuk-mabukan), tetapi ada yang mengatakan, “Mereka minum minuman haram.” Atau sekelompok orang menilai, bahwa rokok itu barang haram (saya pernah selama beberapa tahun menjadi perokok yang dalam satu hari sanggup menghabiskan rokok sebanyak 3 bungkus isi 16 batang plus 5-6 batang untuk persediaan kalau yang isi 16 itu habis sebelum tidur dan bangun tidur, namun sejak lebih lima tahun ini saya total tidak merokok lagi). Apa tidak bikin ribut jika sekelompok orang tersebut membuat pernyataan “rokok itu barang haram”, lalu digembar-gemborkan ke ruang publik?
Untuk media massa yang bersifat plural dan heterogen semacam ini, saya sangat menyayangkan bila apresiasi berdasarkan pemahaman spiritual seorang Kus (yang memang berbidang studi di sastra Indonesia) harus ditelan bulat-bulat oleh orang-orang yang “berbeda”, termasuk kata “maksiat” dan “berdosa” yang tanpa penjelasan “maksiat dan berdosa menurut ajaran apa”.
Oleh karenanya, dalam dua kasus apresiasi karya tersebut beserta kecenderungannya, saya pun berani (kenapa musti takut?) bilang, “Kus terlalu berani sekaligus seenak udelnya sendiri mendakwa dalam berapresiasi hanya lantaran merasa diri lebih suci, lebih bertaqwa, lebih beriman, lebih pro-Tuhan, dan sejenisnya!” Kalau seorang Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja merasa dirinya sah, pantas dan layak membuat apresiasi seenak udelnya begitu bahkan menuduh “menyesatkan”, saya pun bisa. Lantas, apakah serta-merta tulisan saya ini dicap oleh Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja sebagai “memutar balik fakta” dan “menyesatkan” seperti yang disinggungnya dalam buku tamu www.cybersastra.net pada 26.10.2004 22:30? Alangkah mudah!
***
Babarsari Yogyakarta, akhir Oktober 2004
NB: Sebenarnya saya telah menahan jemari saya untuk tidak menulis semua ini. Tetapi, usaha saya gagal! (Kus, Kus, kau ini belum jadi juri Nobel bidang sastra atau nabi, suombongmu sudah begitu rupa!)
Lampiran puisi Mega di situs Sarikata.com:
IJINKAN AKU TUHANP
Pengirim : Mega Vristian
Sumber : Hongkong
Tuhan boleh kupinjam langitmu?
Untuk kujadikan kanvas lukisku.
Seperti Tuhan melukis bayangku di bawah sinar rembulan
Kan kusibak gumpalan awan, oh ini endapan air mataku
Saat hidup dicincang belati kehidupan
biar kulukis mentari
karena Tuhan selalu menyembunyikannya dari hidupku
Yaumatei ' 2004
Beberapa hari lalu saya membuka buku tamu www.cybersastra.net. Di sana saya menemukan tulisan Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja alias Kus, “Wah, aku baru tahu kalau ada komen tar Agust inus Wahyo no di bawah Esaik u " ;Dua Versi Sajak 'Ijin kan Aku Tuhan ' Mega Evers itian awati . Komen tar yang hebat . Makas ih. Tapi sebai knya fakta itu janga n dibal ik2. Biar gak menye satka n orang lain.” (no. 5217, tgl. 26.10.2004 22:30, IP:212.subnet246.astinet.telkom.net.id)
Saya heran ketika membaca kalimat “Tapi sebaiknya fakta itu jangan dibalik-balik. Biar gak menyesatkan orang lain”. Oh ya? Siapa yang membolak-balik (kayak tukang fotokopi atau martabak bangka saja) fakta, siapa merekayasa fakta, dan siapa yang menyesatkan orang lain? Saya ataukah Kuswinarto yang justru membalik fakta, merekayasa hingga menyesatkan (memfitnah!) melalui apresiasinya (mentang-mentang bisa menulis esai)?
Saya juga kembali menengok komentar saya, “Eseis ini memang pakar sastra, bahkan berdiri sebagai "pembela Tuhan". Ia tidak menerima ada puisi yang, menurutnya, memberontak bahkan anti-Tuhan. Hebat. Ia memang sastrawan. Juga pasti hafal slogan-slogan sastra. Mungkin ia termasuk rohaniwan sastra. Mungkin. Tapi, dalam realitas keseharian, eseis ini malah mengincar dan merebut kekasih (calon istri) sahabatnya sendiri. Bagaimana bisa setega itu? Begitulah. Kita memang bisa melihat kuman di ujung lautan, tetapi tidak mau melihat gajah di pelupuk mata. Itulah sisi lain dunia sastra.” (abang-onoy-bangka, Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, Re: Dua Versi Sajak, pada 03/05/2004)Saya masih ingat sekali, komentar tersebut saya tujukan pada kalimat esai Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja yang berbunyi,
“Dalam edisi revisi sajak itu (yang di Situs Sari Kata), penerimaan dan pandangan seperti itu tidak ada lagi. Raib. Gantinya sebuah pemberontakan. Seorang hamba yang memberontak Tuhannya. Nada kebencian dan ketidakpuasan kepada Tuhan tampak jelas pada dua baris terakhir bait terakhir itu. Pandangan bahwa semua yang berlaku atas manusia di dunia ini adalah cobaan atau ujian Tuhan, hilang.
Dari perbandingan ini dapat disimpulkan bahwa edisi pertama sajak itu termasuk sajak religius, sedangkan edisi revisinya bukan sajak religius, bahkan cenderung anti-Tuhan. Dari perubahan itu, juga timbul tanya, apakah Mega juga berubah dari religius menjadi anti-Tuhan? Semoga tidak, dan saya berharap itu tidak terjadi. Tetapi, tentu semua ada pada diri Mega sendiri.” (Esai “Dua Versi Sajak ‘Ijinkan Aku Tuhan’", Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, 18/04/2004)
Saya mencatatkan kata-kata “hamba yang memberontak Tuhannya”, “nada kebencian”, “cenderung anti-Tuhan”, dan “berubah dari religius menjadi anti-Tuhan” yang disangka-dakwakan seenak udelnya oleh Kuskus terhadap kreatornya. Apakah Kuswinarto ini seorang ahli agama, kiyai, nabi, atau malah paranormal alias dukun?
Dari situ saya justru melihat Kus telah berlaku terlalu berani dan seenak udelnya sendiri mendakwa/menghakimi bahkan “meremehkan”, seolah-olah dia hendak memamerkan bahwa dirinyalah yang lebih memahami/mengerti persoalan dosa, pemberontakan terhadap Tuhan, anti-Tuhan, dan sekitarnya. Meskipun puisi dapat pula “dicurigai” sebagai ungkapan isi hati si pemuisi, bukan berarti bahwa si pemuisi adalah seperti apa yang didakwakan, terlebih puisi yang muncul bisa saja merupakan jeritan batin sesaat (bukan sikap hati yang permanen) yang selanjutnya dituliskan oleh si pemuisi. Apakah religiusitas seorang Kuswinarto lebih bermutu daripada pergumulan religiusitas seorang Mega Everistianawati yang terungkap dalam puisi? Apakah seorang Mega harus mengalami pengalaman religius dan menulis puisi semata-mata puja-puji, barulah Kuswinarto akan menstempelnya sebagai “puisi religius yang pro-Tuhan”? Apakah kriteria “pro-Tuhan” dan “anti-Tuhan” hanya ada di tangan dan tempurung kepala Kuswinarto? Waduh-waduh!
Padahal, setahu saya (apakah saya tidak boleh tahu, dan cuma seorang Kuswinarto yang boleh tahu?), kehidupan spiritual seseorang merupakan perjalanan panjang (seumur hidup) yang belum bisa sekonyong-konyong disimpulkan “religius menuju anti-Tuhan”. Lha wong Tuhan saja senantiasa memberi kesempatan manusia untuk kembali, mencari atau menemukan Diri-Nya sebelum batas nafas sang manusia berakhir, kok Kus malah seenak udelnya sendiri menuduhkan “menuju anti-Tuhan”?
Menurut saya (jangan-jangan Kus malah mencap ini penyesatan! Emangnya Kus itu Nabi? Atau tukang stempel?), pengalaman kehidupan religius-spiritual setiap orang itu berbeda-beda. Dan, dengan perbedaan itu, bagi saya, malah memperkaya pengetahuan tentang ke-Maha-an Tuhan, sehingga saya semakin takjub pada kehebatan-Nya dalam melawat para ciptaan-Nya. Kalau pengalaman dan suasana tersebut harus seragam (tiap-tiap orang mengalami hal serupa, atau sama persis yang dirasakan oleh Kus), saya justru meragukan kreativitas Sang Maha Kreatif.
Selain itu, seseorang yang kelihatannya brengsek (menurut kepicikan siapa), di suatu saat bisa mensyukuri sesuatu. Umpamanya, ada yang tidak sungkan-sungkan mengumpati kawannya dengan kata-kata “babi lu!”, “asu!”, “bajingan” atau “anjing!”, tapi dia pun bisa begitu fasih mengagungkan Tuhan. Ada juga pelanggan togel yang bisa mengucapkan syukur dengan penuh keharuan ketika angka taruhannya muncul secara persis dan mendapat hadian jutaan rupiah. Ada juga yang kelihatannya alim dan beberapa karyanya bernuansa religius, namun enjoy-enjoy saja ketika dia menceraikan pasangan sahnya (yang sebelumnya saling mengucapkan kalimat suci), berselingkuh, dll. Bahkan seorang yang berdosa seperti saya ini pun bisa tiba-tiba mengalami suasana spiritual yang sangat dahsyat serta menyejukkan batin, lantas saya tuliskan dalam bentuk puisi yang beraroma religius. Atau, seorang koruptor kelas tenggiri tiba-tiba mengucapkan kata “syukur kepada Tuhan” (karena mendapat hasil besar secara ilegal tapi tidak ketahuan), lalu membuat kalimat yang bagus, jangan-jangan malah dikira orang tersebut sudah sadar/insyaf dan karyanya disebut “bernuansa religius”.
Beberapa hal kemudian hinggap dalam pikiran saya. Apakah seseorang harus melakukan ritual tertentu terlebih dulu (harus diketahui oleh Kuswinarto agar ritual tersebut betul-betul sah menurut keangkuhan rohaninya), baru kemudian ilham sudi datang atau Tuhan sudi berkunjung? Apakah Tuhan tidak boleh (lho, siapa yang nuekat tidak memperbolehkan Tuhan ya?) menghadiahkan “ilham” secara cuma-cuma atau menciptakan suasana religius kepada siapa pun, termasuk orang yang dicap Kus sebagai “pemberontak” ataupun “pendosa”? Serta, kenapa kita harus tergesa-gesa menghakimi “memberontak” sampai-sampai “anti-Tuhan” (astaga!) terhadap pergumulan batin seseorang tanpa kita memberi kesempatan pada orang tersebut untuk berdialog secara pribadi seutuhnya dengan Sang Khalik hingga suatu waktu ia betul-betul memperoleh apa yang menjadi ganjaran yang patut baginya? Bahkan, apakah mustahil bin khayal bila suatu waktu seorang rohaniwan mengalami sebuah pergumulan batin, dan berikutnya ia sempat meragukan kekuasaan-Nya? Apakah dengan sedikit keraguan itu nantinya si rohaniwan akan menjadi terpuruk berujung murtad (murtad menurut siapa pula)? Atau sebaliknya, setelah keraguan tersebut, apakah mustahil si rohaniwan kemudian mengalami hal spiritualis yang semakin membuat dirinya kian mengagumi ke-Maha Kuasa-an Sang Khalik?
Hal “penghakiman”, “pendakwaan”, dan sejenisnya tersebut, mau tidak mau, mengingatkan saya pada apresiasi (atau tuduhan, dakwaan!) Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja terhadap cerpen saya yang berjudul “Membakar Bulan” (Catatan untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono yang dimuat di Galeri Karya Esai, www.cybersastra.net, 5 Januari 2003).
Pada apresiasinya Kus menuliskan,
“Dengan sudut pandang pengisahan (point of view) orang ketiga, jelas sekali narator “memihak” tokoh Oji, mahasiswa yang kebetulan di TKP saat aksi pembakaran. Oji sinis dengan pembakaran itu dan ia cenderung berpendapat: sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras, seperti rumah bordil tetap menjual zinah. Permisif. Padahal, orang yang tidak melakukan maksiat, tetapi membiarkan kemaksiatan itu, juga berdosa. Yang tepat saya kira, jual-beli zinah itu diberantas juga seperti miras, hanya saja tidak perlu dengan kekerasan.”
Memang pembaca mempunyai hak mutlak untuk mengapresiasi apa saja yang dibacanya. Saya hormati hak tersebut. Akan tetapi, apresiasi atas apa yang dibaca bila didasarkan hanya pada keangkuhan prinsip spiritual (merasa diri lebih bermoral-berbudi luhur-bertaqwa, lebih beriman, lebih dekat kepada Tuhan, lebih suci) yang kemudian termanifestasikan dalam apresiasi, menurut saya, sungguh berlebihan dan cenderung semena-mena menghakimi. Apalagi kemudian ditambah “jelas sekali narator (pengarang, berati saya, Agustinus Wahyono!) ‘memihak’ tokoh Oji”, dan “cenderung berpendapat”, padahal tokoh Oji sama sekali heran bahwa kekerasan yang terjadi hanya pada tempat yang “tak terlindungi”. Apakah pesan pengarang/narator (: saya) tidak sampai, ataukah karena Kus sudah telanjur merasa diri lebih suci, lebih pintar, lebih bertaqwa, serta lebih berakhlak mulia sehingga terungkap dalam apresiasinya (apresiasi ataukah sebuah penyesastan/fitnah yang terstruktur secara logis nan bengis)?
Coba perhatikan lagi kalimat buatan Kuswinarto,
“Dengan sudut pandang pengisahan (point of view) orang ketiga, jelas sekali narator “memihak” tokoh Oji, mahasiswa yang kebetulan di TKP saat aksi pembakaran. Oji sinis dengan pembakaran itu dan ia cenderung berpendapat: sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras, seperti rumah bordil tetap menjual zinah. Permisif”.
Pada kalimat tersebut justru jelas sekali Kus “menuduh” saya (sebagai narator alias kreator) menganjurkan perbuatan seperti yang Kus “tuduhkan” dalam apresiasinya. Astaga! Di situ Kus membuat tambahan sendiri, dan itu jelas-jelas sekali menghasut, memfitnah dan menyesatkan opini yang semestinya! Benar-benar bikin saya tak habis pikir, kenapa seorang Kuskus memanfaatkan potensinya pada sebuah prasangka yang betapa buruk-busuknya sampai cenderung menyesatkan opini publik serta memfitnah seorang Agustinus Wahyono! Dumeh pinter, njur sakpenak udele dhewe (opo udele enak? saru, ih!).
Logika kalimatnya: jelas sekali narator (= pencerita = pengarang alias Agustinus Wahyono) “memihak” Oji, yang cenderung berpendapat :sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras. Alamak!
Dahsyat nian “tuduhan” ("fitnahan") Kus atas saya (narator, pencerita, pengarang, kreator) yang diwakilkan oleh tokoh Oji dalam cerpen saya, apalagi dengan penekanan “jelas sekali”. Tuduhan yang amat sangat jahat, keji, dan kejam ! Padahal cerpen “Membakar Bulan” telah dimuat di Harian Bangka Pos edisi Minggu 5 Mei 2002 sebelum Kus membedah dan menampilkannya pada situs www.cybersastra.net pada 5 Januari 2003 (8 bulan setelah pemuatan di media massa cetak!). Bukankah redaktur media cetak lokal harus selektif karena “misi pendidikan” yang diembannya? Apakah seorang Kuswinarto lebih memahami hakikat “misi pendidikan” sebuah media massa dibanding redaktur budaya di koran daerah saya? Wah, kalau begitu, hebat banget Kus satu ini!
Dia juga bilang, “Padahal, orang yang tidak melakukan maksiat, tetapi membiarkan kemaksiatan itu, juga berdosa.”
Dengan tanpa spesifikasi “maksiat itu apa (dengan Mak Erot, apanya?), menurut definisi apa, dan berdosa menurut ajaran apa”, saya kira penghakiman Kus tersebut super subyektif banget dan men-generalisasi-kan dosa. Misalnya, kita mengatakan penganut agama A itu makan daging babi (haram), padahal penganut agama A pun menilai kita ini makan daging yang tidak diperbolehkan dimakan, contohnya sapi. Penganut agama lain tidak mempermasalahkan orang minum anggur (bukan untuk mabuk-mabukan), tetapi ada yang mengatakan, “Mereka minum minuman haram.” Atau sekelompok orang menilai, bahwa rokok itu barang haram (saya pernah selama beberapa tahun menjadi perokok yang dalam satu hari sanggup menghabiskan rokok sebanyak 3 bungkus isi 16 batang plus 5-6 batang untuk persediaan kalau yang isi 16 itu habis sebelum tidur dan bangun tidur, namun sejak lebih lima tahun ini saya total tidak merokok lagi). Apa tidak bikin ribut jika sekelompok orang tersebut membuat pernyataan “rokok itu barang haram”, lalu digembar-gemborkan ke ruang publik?
Untuk media massa yang bersifat plural dan heterogen semacam ini, saya sangat menyayangkan bila apresiasi berdasarkan pemahaman spiritual seorang Kus (yang memang berbidang studi di sastra Indonesia) harus ditelan bulat-bulat oleh orang-orang yang “berbeda”, termasuk kata “maksiat” dan “berdosa” yang tanpa penjelasan “maksiat dan berdosa menurut ajaran apa”.
Oleh karenanya, dalam dua kasus apresiasi karya tersebut beserta kecenderungannya, saya pun berani (kenapa musti takut?) bilang, “Kus terlalu berani sekaligus seenak udelnya sendiri mendakwa dalam berapresiasi hanya lantaran merasa diri lebih suci, lebih bertaqwa, lebih beriman, lebih pro-Tuhan, dan sejenisnya!” Kalau seorang Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja merasa dirinya sah, pantas dan layak membuat apresiasi seenak udelnya begitu bahkan menuduh “menyesatkan”, saya pun bisa. Lantas, apakah serta-merta tulisan saya ini dicap oleh Kuswinarto alias Yaqin alias Yaqinsaja sebagai “memutar balik fakta” dan “menyesatkan” seperti yang disinggungnya dalam buku tamu www.cybersastra.net pada 26.10.2004 22:30? Alangkah mudah!
***
Babarsari Yogyakarta, akhir Oktober 2004
NB: Sebenarnya saya telah menahan jemari saya untuk tidak menulis semua ini. Tetapi, usaha saya gagal! (Kus, Kus, kau ini belum jadi juri Nobel bidang sastra atau nabi, suombongmu sudah begitu rupa!)
Lampiran puisi Mega di situs Sarikata.com:
IJINKAN AKU TUHANP
Pengirim : Mega Vristian
Sumber : Hongkong
Tuhan boleh kupinjam langitmu?
Untuk kujadikan kanvas lukisku.
Seperti Tuhan melukis bayangku di bawah sinar rembulan
Kan kusibak gumpalan awan, oh ini endapan air mataku
Saat hidup dicincang belati kehidupan
biar kulukis mentari
karena Tuhan selalu menyembunyikannya dari hidupku
Yaumatei ' 2004
